Aku pingin jomblo…
wahahhahaaa…topik yang aneh
tapi hu uh pingin jomblo saja kalo punya pasangan tapi geje, kalo punya pasangan tapi tersiksa secara batiniah, pingin jomblo saja kalo ternyata punya pasangan bikin nangis di pojokkan kamar sambil meluk guling..huhuuu..
Pingin jomblo saja.
Nanti kalo udah waktunya nikah, biar dijodohin saja ma bapak, kan banyak tuh anaknya temen2 bapak yang high quality hohooo.
Asal seiman, asal dia lelaki baik-baik, asal setia, asal bertanggung jawab dan penyayang (nah loh kok ‘asal’ nya banyak beneerr hihiii) aku mau mau ajah…
Ndak peduli tampang wes, percuma kalo tampang bagus tapi kelakuan minus…hwaaaaaa >.<
>>tapi bukan berarti aku menolak dapat cowok cakep loh yaaaahh…asal memenuhi kriteria di atas…lanjut gan!!^^
“Tuhan, kirimkanlah akuuu kekasih yang baiiikk hatiii yang mencintai aaakuuu…apa adanyaaa”
[back sound: Munajat Cinta by, Ahmad Dhani]
Mojokerto, 13 Nopember 2009

November 14, 2009 at 5:12 pm
assalam,allaikm wr wb mt mlm mbk , aku udh bca tulsan mu dan aku trima apa sja dr mu itu brat tau rngan , ku iklas trima km ap daanya . wassalm,allikm wr wb
November 16, 2009 at 11:42 pm
wah..wah..pengen jomblo..
Alhamdulillah saya uda jomblo..mslah jodohnya..udaah di^%#$@%^@&***(bekap mulut)
November 17, 2009 at 2:47 am
@hmad: waalaikumsalam….
weee maksudnya apa neh?? *bingung*
November 17, 2009 at 2:49 am
@fajarembun: hyeheheheee….
itu lbh baek mas
November 18, 2009 at 7:47 am
hai pa kabar
kenapa u ingin jomblo
November 20, 2009 at 3:27 am
@wawan: Alhamdulillah baek…
hehee..udh jelas kan di posting?? thx udh berkunjuuuuung ^____^
Desember 5, 2009 at 7:00 pm
Jadilah Kalian Bersaudara Sesama Hamba ALLAH SWT
Jadilah Kalian Bersaudara Sesama Hamba ALLAH SWT
قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ، فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّام
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling dengki dan iri, dan jangan pula saling memusuhi, jadilah bersaudara sesama hamba Allah, dan tiadalah halal bagi muslim untuk memutus hubungan / memusuhi saudara muslimnya lebih dari tiga hari” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Yang Maha Indah, Yang Maha Melimpahkan keindahan sepanjang waktu dan zaman,dari masa ke masa memperindah keadaan menjadi lebih indah, (yaitu) Jiwa hamba – hambaNya yang semakin dekat (kepada kasih sayang Nya swt) (semakin zaman mendekati akhirnya maka Allah semakin mempermudah pengampunan Nya swt). daripada mukminin dan mukminat yang diangkat derajatnya setiap waktu dan saat dengan sunnah Sang Pembawa Rahmatnya Allah, ialah Sayyidina Muhammad Saw hingga setiap waktu mereka lewati siang dan malamnya mereka terus mendekatkan dan semakin dekat kepada Cinta Allah, kepada Keridhoan Allah, kepada Kasih Sayang Allah, kepada Cahaya Mahabbatullah, kepada Cahaya Keindahan Allah, mereka lewati hari – harinya dengan ruku’ dan sujudnya, dengan taatnya kepada Allah, mereka lewati dosa – dosa dengan istighfar dan taubat hingga lewatlah hari mereka dalam keluhuran dan hari demi hari, maka matahari dan bulan sebagai saksi, bumi sebagai saksi, jasadnya sebagai saksi, lidahnya menjadi saksi, tangan dan kaki menjadi saksi dan kesemua alam semesta menjadi saksi atas kemuliaannya. Dan alam semesta menjadi saksi atas kecintaan Allah padanya.
Sebagaimana diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul saw bersabda “idza ahaballah abdan qaala Li Jibril.. Hadirin – hadirat, Rasul saw bersabda jika Allah telah mencintai seorang hamba maka Allah berkata kepada Jibril, “wahai Jibril, Aku telah mencintai fulan” maka Jibril turun ke langit dan mengumumkan kepada angkasa raya, berjuta – juta galaksi di langit dan kepada semua yang ada di langit dan di bumi. “Wahai penduduk angkasa raya, Allah telah mencintai fulan, maka cintailah ia”, jadilah seluruh debu, hewan dan tumbuhan mengenal hamba yang dicintai Allah dan kecintaan Allah kepada hamba itu terbit dengan sunnah dan tuntunan Sayyidina Muhammad Saw. “In kuntum tuhibbunallah fattabi’uniy yuhbibkumullah” jika kalian mencintai Allah, ikutilah Nabi Muhammad Saw maka kalian akan dicintai Allah Swt.(QS. Ali Imran : 31.)
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian agung dan luhurnya Rabbul Alamin memperindah kehidupan setiap keturunan Adam yang mau beriman kepada Allah, yang mau mengikuti tuntunan Sang Nabi saw, dan mau menghiasi jiwanya dengan kedamaian. Allah Swt berfirman “alladzina aamanu wa tathma’innu quluubuhum bidzikrilah, alaa bidzikrillah tathma’innulquluub” ketahuilah orang – orang yang beriman itu tenang hatinya dengan mengingat Allah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah tenang dan damainya sanubari. (QS. Ar-Rad : 28)
Hadirin – hadirat, satu nama Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi, yang jika diingat akan menimbulkan kedamaian, menenangkan seluruh sel tubuh kita, membawa kedamaian pada seluruh sel tubuh kita dan membawa aura kemuliaan yang terbit dan muncul dari sanubari kepada seluruh tubuhnya dan kepada alam sekitar.
Doctor Albert Benson dari fakultas kedokteran di Universitas Harvard menemukan satu penemuan yang sangat mengejutkan. Setelah ia mempelajari cara untuk membawa kedamaian dan ketenangan bagi manusia. Belasan tahun ia mempelajari dan mencari, ia menemukan satu penemuan yang sangat mengejutkan. Apa penemuannya? Tidak pernah ada kedamaian yang ia temukan bisa mendamaikan seorang manusia, ketenangan hatinya kecuali dengan iman kepada Allah. Dan tidak pernah ada kedamaian yang mencapai hebatnya orang yang beriman kepada Allah dibanding iman kepada apapun selain-Nya. Mengingat air terjun yang indah, mengingat gunung yang indah, mengingat kekasih, mengingat kenikmatan, apapun yang ia perbuat untuk mencapai kedamaian, belum ada satu metode yang mereka temukan terkecuali kedamaian itu sangat memuncak ketika manusia mengingat Allah.
Hadirin – hadirat, maka ia menyebutkan (doctor Albert Benson) dari Universitas Harvard bahwa keturunan Adam memang telah dicipta untuk hanya taat dan beriman kepada Allah, yang dengan itu tenanglah jiwanya, yang dengan tenang jiwanya maka tenanglah seluruh tubuhnya dan ketenangan seluruh sel tubuhnya. Demikian indahnya penemuan itu membuka Keluhuran Ilahi dan Allah sudah berfirman “alaa bidzikrillah tathma’innulquluub” dengan mengingat Allah maka tenanglah sanubarinya. (QS. Ar-Rad : 28.)
Wahai jiwaku dan jiwa kalian yang sering diombang – ambingkan dalam gelombnag kehidupan, dalam limpahan kenikmatan hingga terjebak pada kekufuran dan tidak bersyukur atau kepada kesusahan hingga terjebak pada tidak taat kepada Allah dan kufur.
Belum lagi, Allah terus mengombang – ambingkan keturunan Adam (agar mereka mencari kekuatan dan ketenangan Nya swt), namun ketika jiwanya telah menyimpan aura kekuatan terbesar di alam semesta yaitu Allah Jalla Wa Alla, maka ia akan sabar dengan apapun yang terjadi, tidak akan bisa mengecohnya karena jiwanya bersama Allah Jalla Wa Alla. Kalau sudah jiwa dan sanubarinya bersama Allah, mengingat Allah, dalam kemuliaan Allah, maka ia dalam lindungan benteng kekuatan Allah Jalla Wa Alla.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul saw bersabda sebagaimana hadits yang kita dengar diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, beliau saw “la tabaghadhu, wala tahasadu, wala tadabaru, wa kunu ibadallah ikhwanan, wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyamin” janganlah kalian saling membenci.., kata Sang Nabi saw. Kenapa? Kita akan perjelas nanti. Karena perbuatan manusia itu akan membawa kerusakan di dunia dan akhirat. “la tabaghadhu, wala tahasadu..” janganlah kalian saling benci dan saling dengki. Lihat saudara kita mendapat kenikmatan jangan dengki dan iri, karena Yang Maha Memberi masih tetap memberi dan bisa memberi. “..wala tadabaru..” jangan saling membelakangi. Tadaabaru itu maksudnya adalah orang yang ketika jumpa dengan saudaranya muslimin buang muka, atau lebih ringkasnya ialah jangan bermusuhan.
“..wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyaamin” dan tidak dihalalkan bagi saudara muslim untuk bermusuhan lebih dari 3 hari. Sebelumnya Sang Nabi mengatakan “..wa kuunuu ibaadallahi ikhwanan” jadilah kalian sesama hamba Allah itu bersaudara, sesama muslimin itu bersaudara, persaudaraan yang lebih erat daripada persaudaraan pertalian darah. Karena kalau persaudaraan pertalian darah kalau wafat terpisah, tapi kalau saudara seiman, wafat lalu hidupnya di alam barzah dan di akhirat tidak akan pernah terpisah. Semakin kita menyambung hubungan silaturahmi dengan manusia, sesama iman, sesama muslimin – muslimat, maka Allah Swt akan semakin menyambung Kasih Sayang-Nya kepada kita. Semakin seseorang tidak memiliki kebencian kepada orang lainnya, makin indah hidupnya di dunia dan akhirat.
Para ilmuwan dalam penemuan mutakhirnya menemukan satu penemuan yang menakjubkan bahwa ketika seseorang itu marah atau timbul sifat benci didalam dirinya maka terpancarlah dari dalam tubuhnya hormon – hormone stres, hal itu menimbulkan tuntutan sel sel otot yang ada di jantung akan oksigen yg berlebihan,Marahnya seseorang atau bencinya ia pada sesuatu atau benci pada orang lainnya maka itu akan menyebabkan lepasnya hormon – hormon tersebut dan jika itu terjadi akan membuat kebutuhan yang berlebihan atas oksigen pada otot – otot jantungnya, dan oksigen itu tidak bisa dipenuhi oleh paru – parunya. Berbeda dengan orang yang berlari, jantungnya berdebar cepat tapi tubuhnya bergerak. Tapi kalau tubuhnya tetap diam saja hingga benci dan kemarahannya yang muncul maka jantungnya berdebar dengan keras yang mengakibatkan otot pada jantungnya membutuhkan oksigen yang lebih banyak dan ini tidak bisa dipenuhi oleh paru – parunya. Lantas apa yang terjadi setelah itu? Itu menyebabkan pengentalan keping – keping darah pada jantung. Apa yang akan terjadi setelah itu? Itu menyebabkan sering terjadinya serangan jantung. 60% serangan jantung terjadi pada orang yang sering marah dan sering benci kepada orang lainnya.
Dan penemuan yang lebih menakjubkan, mereka meneliti orang – orang yang sakit. Para ilmuwan di Amerika, mereka meneliti orang – orang yang sakit. Mereka merasa ringan sakitnya ketika memaafkan orang yang menyakiti mereka. Ini penemuan dengan jelas, selaras dengan sunnah Sayyidina Muhammad Saw. “la tabaaghadhu, wala tahaasadu, wala tadaabaru, wa kunu ibadallah ikhwanan, wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyaamin” janganlah kalian saling membenci, jangan saling memusuhi. Sang Nabi saw memahami, karena dalam setiap tuntunan beliau itu tersimpan kesejahteraan dan kesehatan di dunia dan juga kebahagiaan di akhirat. Semakin sirna seseorang dari membenci orang lainnya makin ringan semua penyakitnya, semakin jauh dari serangan jantung. Demikian hebat sunnah Muhammad Rasulullah Saw. Orang yang paling pemaaf, ialah Sayyidina Muhammad Saw.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt telah menjadikan kemuliaan pada jiwa yang dipenuhi cahaya Ilahi maka jiwa itu akan sulit dendam kepada siapapun. Demikianlah jiwa Sayyidina Muhammad Saw. Jiwa yang dipenuhi kekuatan Ilahi akan berpengaruh kepada apapun yang ada didekatnya. Sebagaimana penemuan Prof. Masaru Emoto dari Jepang, yang telah sering kita dengar bahwa air itu bereaksi dengan emosi orang yang ada di hadapannya. Kalau orang yang dihadapannya marah – marah maka jika air itu dilihat dengan mikroskop dengan skala tertentu akan berubah menjadi buruk bentuknya. Dan ketika orang yang ada di hadapannya tenang maka air itu berubah menjadi lebih indah jika dilihat dengan skala tertentu di mikroskop. Ini jiwa yang tenang, lebih – lebih lagi jiwa yang dipenuhi Cahaya Allah. Ini berlaku bukan hanya pada air tapi berlaku untuk alam semesta. Bahkan merubah hal – hal hina menjadi hal yang mulia, sebagaimana firman Allah didalam hadits qudsiy riwayat Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) “humul julasaa’ laa yasyqaa bihim jaliisuhum” orang yang duduk bersama orang – orang yang berdzikir, walaupun niatnya bukan untuk berdzikir, dia mendapatkan pahala dan kemuliaan. Kenapa? Karena bersama orang yang berdzikir. Air bisa bereaksi dengan jiwa yang ada di hadapannya. Demikian pula dengan alam semesta ini.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Inilah Allah Swt menjadikan jiwa – jiwa mulia itu sebagai pembawa penyelamat di muka bumi. Sebagaimana Allah Swt berfirman “kalau seandainya bukan karena pria – pria mukminin dan wanita – wanita mukminat yang kalian tidak ketahui kemuliaan mereka itu, kalau mereka itu tiada, kalau mereka itu pergi, maka niscaya akan turun azab yang pedih kepada wilayah itu”. (QS Al Fath 25) .Tapi karena ada kaum mukminin dan mukminat yang melakukan jamaah. Sebagian ulama mengatakan ini pada orang – orang yang melakukan shalat jamaah atau jamaah majelis dzikir atau jamaah majelis taklim, maka mereka inilah yang menyingkirkan musibah. Kenapa? Karena alam semesta sudah dikuasai oleh satu kekuatan tunggal yang Maha Mengatur segala kejadian untuk tetap memuliakan dan membawa keberkahan bagi jiwa – jiwa yang dipenuhi cahaya Allah.
Allah Swt berfirman didalam hadits qudsiy “ana ma’a ‘abdi haitsu maa dzakaranii wa taharrakat bii syafataah” Aku bersama hamba – hambaKu ketika ia mengingat-Ku dan ketika kedua bibirnya bergetar menyebut Nama-Ku. Kalau sudah Allah sudah bersamanya maka kedamaian bersamanya, kalau kedamaian bersamanya, kedamaian bersama keluhuran. Demikian indahnya jiwa Sayyidina Muhammad Saw. Dan semoga aku dan kalian terwarnai dengan Cahaya Keindahan Allah Swt.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Setiap perbuatan – perbuatan ibadah yang merupakan sunnah Sang Nabi saw tersimpan padanya Cahaya Keridhoan Ilahi. Diriwayatkan didalam Shahih Muslim dalam salah satu hadits qudsiy bahwa Allah Swt berfirman di hari kiamat kepada para hamba – hambaNya. “Hamba – hambaKu, Aku sakit kenapa kalian tidak menjenguk-Ku, Aku lapar kenapa kalian tidak memberi-Ku makan, Aku haus dan kalian tidak memberi-Ku minum”, maka para hamba – hamba bertanya “wahai Allah, sungguh bagaimana Engkau ini sakit sedangkan Engkau Rabbul Alamin?, bagaimana Engkau lapar sedangkan Engkau Rabbul Alamin?, bagaimana Engkau haus sedangkan Engkau Rabbul Alamin.?”. Allah menjawab “hamba-Ku, kau lihat hamba-Ku (fulan) sakit, kau tidak menjenguknya. Kalau seandainya kau menjenguknya saat itu, kau akan temukan Aku bersamanya”. Maksudnya apa? Bukan Allah ada disamping orang yang sakit, tapi Keridhoan dan Kasih Sayang Allah ada bersama orang yang menjenguk orang yang sakit. (syarah Nawawi ala shahih Muslim) “Hamba-Ku (fulan) lapar, ia minta padamu makanan dan kau tidak memberinya? apakah kau tidak tahu bahwa hamba-Ku kalau kau beri ia makan maka kau akan temukan Aku bersama orang itu”. Maksudnya apa? Kau akan mendapatkan cintanya Allah dengan membantu orang yang kelaparan itu. “Hamba-Ku (fulan) kehausan, ia minta minum padamu dan kau tidak memberinya? kalau kau memberinya saat itu, kelak akan kau temukan Aku bersamanya”. Demikian sifat – sifat mulia membantu sesama membuka rahasia keridhoan Allah Jalla Wa Alla.
Oleh sebab itu, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari tentang salah seorang wanita bertanya kepada Rasul saw “Wahai Rasulullah, aku punya harta yang lebih, boleh tidak aku sedekahkan pada suamiku dan anakku? boleh tidak sedekah kepada kerabat sendiri?”, maka Rasul saw menjawab “untukmu dua pahala”. Yang pertama kau dapat pahala shadaqah dan yang kedua kau dapat pahala menyambung silaturahmi dengan kerabatmu. sering dipertanyakan, mana yang lebih didahulukan, umum atau keluarga sendiri ?. Justru keluarga sendiri dulu baru orang lain, bahkan kepada keluarga sendiri, kata Rasul saw. Ada dua pahala, yaitu pahala shadaqah dan pahala menyambung kekerabatan. Demikian indahnya tuntunan Nabiyyuna Muhammad Saw.
Allah Swt berfirman di dalam hadits qudsiy riwayat Shahih Bukhari ”ana ‘inda dzhanni ‘abdiy biy” Aku bersama persangkaan hamba-Ku. “Barangsiapa yang memusuhi wali – wali Ku, Aku umumkan perang kepadanya”. Ini Allah Swt berfirman menunjukkan kalau Allah akan menghancur leburkan semua mereka yang memerangi para wali – wali.
“Wamaa taqarraba ilayya abdi…”, tiadalah seorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan menjalankan apa – apa yang Aku wajibkan untuk mereka, dan hamba-hamba Ku itu tidak puas hanya menjalankan yang wajib saja, ia terus mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang sunnah sampai Aku mencintainya, (kata Allah).
Subhanallah!! Jadi Cintanya Allah itu tersimpan pada hal yang fardhu (wajib) dan yang sunnah. Jadi jangan menentang syari’ah, sampai kemanapun puncak kemuliaan ini dicari, tidak akan bisa tercapai derajat para wali terkecuali dengan mengamalkan syari’ah dan sunnah. Segala hal yang bertentangan dengan syari’ah dan sunnah maka tentunya tidak akan mencapai derajat cinta kepada Allah. Sebesar – besar apapun pengakuan seseorang jika ia menentang syari’ah dan menentang sunnah Sang Nabi saw maka ia mengaku seorang yang mulia di sisi Allah maka ia batil. Karena seorang wali tidak dicintai oleh Allah dan diangkat oleh Allah sebagai wali terkecuali ia telah mengamalkan hal – hal yang fardhu dan hal – hal yang sunnah sampai Allah mencintainya.
Demikian kelanjutan riwayat Shahih Bukhari, “jika hamba – hambaKu itu sudah mendekat kepada-Ku dengan hal yang fardhu dan yang sunnah sampai Aku mencintainya, maka jika Aku mencintainya Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan aku menjadi tangan dan kakinya yang ia gunakan untuk bergerak dan jika ia meminta pada-Ku, Aku akan mengabulkan permintaannya, jika ia minta perlindungan maka Aku melindunginya”.
Hadirin – hadirat, tentunya yang dimaksud bukanlah Allah menjadi telinga, Allah menjadi pendengaran dan penglihatan, Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari menjelaskan bahwa maksud dari ucapan hadits qudsiy ini adalah orang yang menjaga dirinya dari hal yang fardhu dan sunnah sampai Allah mencintainya, Allah yang akan menjaga panca inderanya dari hal – hal yang dimurkai Allah dan akan muncul hal – hal yang lebih dari indera keenamnya. Dari penglihatannya, pendengarannya, tangan dan kakinya.
Hal ini teriwayatkan banyak didalam riwayat Shahih bahwa Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu, beliau sedang berkhutbah jum’at tiba – tiba di tengah – tengah khutbah berteriak “naik ke atas bukit”. Para sahabat bingung, sedang khutbah jum’at bicara tentang naik ke atas bukit apa maksudnya? Ada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah wa radiyallahu anhu hadir saat itu, Sayyidina Ali berkata “catat tanggal dan waktunya”, maka para sahabat mencatat tanggalnya. Tidak lama beberapa minggu, kelompok pulang dari peperangan, mereka berkata “kami terjebak dalam peperangan hampir saja kami kalah, tiba – tiba kami mendengar suara Umar bin Khattab tanpa wujud yang mengatakan “naik ke atas bukit”. Wujudnya tidak ada, tapi suaranya saja. Kami naik keatas bukit lalu kami meneruskan peperangan dan akhirnya kami menang. Kapan ini terjadi? Ia berkata “kira – kira hari jum’at, saat waktu shalat jum’at”. Subhanallah!! Sayyidina Umar sedang khutbah jum’at seraya berkata “naik ke atas bukit”, ia sedang berhadapan dengan jama’ah tapi penglihatan dan pendengarannya sampai kepada saudara – saudara muslimnya di tempat yang jauh. Ia menolong dan membantu mereka dengan memberikan kepada mereka penyelesaian yang membuat mereka menang “naik ke atas bukit, naik ke atas bukit”, selamat mereka.
Demikian hebatnya para wali Allah Swt, tentunya sangat banyak. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, Sayyidina Ali Zainal Abidin dan lain sebagainya yang kesemuanya ahlul khusyu’, kesemuanya orang yang menjalankan sunnah Sang Nabi saw, kesemuanya tidak mau bertentangan dengan Allah dan Rasul saw.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
“Kalau mereka minta pada-Ku niscaya akan Ku-beri dan kalau mereka mohon perlindungan pada-Ku niscaya akan Ku-lindungi”, kata Allah.
Akhir dari penyampaian saya malam hari ini adalah munculnya fitnah terhadap pribadi saya dan Majelis Rasulullah Saw yang disebarkan di masjid – masjid hari Jum’at yang lalu di Al Hawi, di Al Munawwar, dan di banyak perkantoran. Dan orang yang menyebarkan juga pakai jaket Majelis Rasulullah Saw. Isinya ada foto saya dan ada tanda tangan palsu saya dan juga point – pointnya menyudutkan Presiden Republik Indonesia, menyudutkan Ibu Megawati, menyudutkan FPI dan FBR dan menghina para habaib lainnya. Dan seakan – akan itu muncul dari saya. Selebaran dibagikan sebanyak – banyaknya. Hal ini hadirin, saya mohon jangan ada yang mengambil tindakan anarkis karena saya sudah memaafkannya, Biar saja mereka terus demikian dan saya terus berdoa siang dan malam agar Allah berikan bagi mereka hidayah. Apa yang mereka perbuat ini memusuhi dakwah Sayyidina Muhammad Saw, bukankah yang kita ajarkan kedamaian? Bukankah yang saya sampaikan agar kita mencintai Allah dan Rasul-Nya?, damai di wilayah ini, damai bangsa ini, damai masyarakat kita, damai dan makmur kehidupan kita dunia dan akhirat, inikah yang mereka perangi? Semoga Allah memberi mereka kejelasan, memberikan mereka hidayah.
Hadirin – hadirat, jangan ada yang mengambil tindakan anarkis. Kalau ada 1,2 bentuk provokasi yang muncul di masyarakat laporkan kepada yang berwajib dengan segera. Tapi kalau bisa diredam, ya sudah diredam saja karena kedamaian itu selalu bersama kekuatan Allah Swt. Jadi biarkan saja, kita terus berjalan dan kita didalam satu kesatuan dalam satu iman. Dan tidak ada masalah dengan Presiden Republik Indonesia. Mulai tahun 1998 Majelis Rasulullah Saw ini berdiri, terus siapapun yg naik menjadi Presiden Majelis Rasulullah Saw tidak pernah bermasalah dg mereka. Demikian pula dengan Ibu Megawati, tidak pernah ada masalah, dengan FPI justru kita bersaudara, dengan FBR kita bersaudara tapi kelompok ini menjadikan seluruh symbol itu untuk memerangi Majelis Rasululah Saw dan mereka tidak akan berhasil. Ini justru persatuan muslimin – muslimat bersama – sama mengangkat dakwah Sayyidina Muhammad Saw. FBR, FPI, Majelis Rasulullah Saw tidak bisa dipecah karena kami sama – sama membela Sayyidina Muhammad Saw. Masing – masing dengan caranya, ada yang dengan cara naik mobil, ada yang dengan cara naik sepeda, ada yang dengan cara naik bus, ada yang dengan cara naik helikopter, ada yang dengan cara kapal laut. Masing – masing dengan caranya tapi 1 tujuan maka tidak akan pernah bisa dipecah belah.
Hadirin – hadirat, kita bermunajat kepada Allah Swt meneruskan daripada doa Nabi kita Muhammad Saw untuk kemuliaan dan pembenahan tempat ini. Rabbiy Rabbiy angkat semua kesulitan dari kami, dari seluruh muslimin – muslimat.
Kita bermunajat kepada Rabbul Alamin, Wahai Yang Menguasai alam semesta, Wahai Yang Selalu Mendamaikan jiwa yang selalu mengingat-Nya, Wahai Yang Maha Memberikan kedamaian dunia dan akhirat, damaikan jiwa kami, damaikan hari – hari kami, damaikan kehidupan kami, damaikan alam barzah kami, damaikan kematian kami kelak, damaikan kami di yaumal qiyamah. Wahai Cahaya Kedamaian dunia dan akhirat yang terbit dengan kebangkitan Sayyidina Muhammad Saw, kami bertawassul demi keluhuran cahaya risalah Sang Nabi saw yang menerangi jiwa dan kehidupan kami dan hari – hari kami dengan Keagungan Nama-Mu
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah
Saya akhiri penyampaian ini dengan salam dan rindu dari Guru Mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh yang beliau berkirim salam kepada jamaah majelis ini dan tidak henti – hentinya bertanya “bagaimana kabar tentang majelis ini?”, saya katakan “Alhamdulilah, jamaah semakin damai dan semakin banyak dan semakin baik”. Dan beliau terus mendoakan kita semoga kita dilimpahi keberkahan. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram, Ya dzatththauli wal in’am. Kita lanjutkan dengan doa bersama yang mana kita mendoakan muslimin – muslimat, semoga dengan doa ini berapa banyak muslimin – muslimat yang ada di muka bumi ini yang dalam kesulitan, yang perlu bantuan Allah, yang ditimpa masalah dan lain sebagainya. InsyaAllah dengan doa ini, akan terselesaikan segala kesulitan mereka yang dengan itu Allah kembalikan itu kepada kita hingga selesailah segala kesulitan kita. Jika Allah menolong kita maka kita doakan seluru muslimin – muslimat.
Washollallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Desember 5, 2009 at 7:02 pm
Surat Cinta untuk Saudariku
Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk surga jika mencium baunya saja tidak bisa?
Saudariku,
Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?
Duhai…
Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?
Mana yang hendak kita cari?
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya…
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.
Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?
Jilbab kan modelnya banyak…
*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*
Iya, saudariku.
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita tidak salah sangka.
Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin berjilbab seperti yang Allah maksud.
“Ya… terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga rokaat yang penting kan saya sholat subuh!”
“Ya… terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang penting kan saya pake jilbab!”
Mmm…
Tidak seperti ini kan?
Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus untuk dijadikan rurukan karena di dalamnya memuat dalil-dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu Jilbab al Mar’ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah yang ditulis oleh Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak diterjemahkan dengan judul Jilbab Wanita Muslimah.
Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai beberapa persyaratan, yaitu:
1. Menutup seluruh badan
Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak. Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula memandang saudara kita yang mengambil pendapat sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka dalam bertakwa dan berittiba’ (mengikuti) sunnah nabi. Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.
*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang lain*
2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan
3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis
4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat menggambarkan bentuk tubuh
5. Tidak diberi wewangian atau parfum
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas)
“BERAT!
Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup?
Lagi pula kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok gimana?”
“RIWEH!
Harus pakai kaus kaki terus.
Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!”
“Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self! Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa leluasa!”
Saudariku,
Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan sehingga kita mengurungkan niat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (Qs. Al A’raf: 16-17)
Ibnu Qoyyim berkata “Apabila seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka setan akan membantu dan memanjangkan angan dan keinginannya.”
Mungkin setan membisikkan
“Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat cantik!”
Sebentar!
Apa definisi cantik yang dimaksud?
Apa dengan dikatakan “wah…”, banyak pengagum dan banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan cantik?
Sungguh!
Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.
Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabiyah!
Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang mulia?
Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa yang ada di dalam dada-dada mereka.
Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias?
Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.
Wahai saudariku,
Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memilih wanta-wanita yang muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya, istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Atau… mungkin setan membisikkan
“Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!”
Wahai saudariku,
Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api neraka.
Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar terhadap panasnya neraka.
Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat membakar kulit kita?
Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?
Wahai saudariku,
Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti beberapa tetes keringat yang ada di dahi.
Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan patuh kepada syariat.
“Riweh pake kaus kaki.”
“Ribet pake baju cewek.”
“Panas! Gerah!”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya.
Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah haq.
“Celana bermerk kesayanganku bagaimana?”
“Baju sempit itu?”
“Minyak wangiku?”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya.
Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam ketaatan,
Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka dengan kain yang ada.
Saudariku,
Jadi bukan melulu soal penampilan!
Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang telah menciptakan kita.
Tetapi…
Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.
Berhias dengan ilmu dan amal sholeh,
Berhias dengan akhlak yang mulia.
Hiasi diri kita dengan rasa malu!
Tutupi aurat kita!
Jangan pamerkan!
Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang sangat kita sayangi.
Simpanlah kecantikannya,
Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!
Simpan untuk suami saja,
Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa untuknya.
Saudariku,
Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau mengikuti peringatan dan takut pada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 11)
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mau mengikuti peringatan,
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita tidak melihat-Nya,
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):
“Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (QS. Yasin: 10)
Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu!
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaian pun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justru jelek menurut Alloh. Alloh berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Alloh lah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216). Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.
Perintah dari Atas Langit
Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Alloh berfirman, “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)
Ketentuan Jilbab Menurut Syari’at
Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.
Pertama
Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab: 59 dan An Nuur: 31). Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.
Kedua
Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik!!!; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…
Ketiga
Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.
Keempat
Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.” (HR. Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung?! Wallohul musta’an.
Kelima
Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori)
Keenam
Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.
Ketujuh
Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini? Wallohul muwaffiq.
(Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani).