Cerita sepulang kontrol ke Dr. Pande kemarin malam.

setelah antri satu jam lebih, nama sy dipanggil..andai ada yg tau betapa sy saat itu: cemas-khawatir-takut-migren-tak berhenti berdoa

Dr: selamat malam ibu, ada keluhan?
Sy: ada dok, 2 hari kemarin perut kiri bawah sy sakit sekali
Dr: ada lagi?
Sy: hari ini migren dok mungkin krn tekanan darah sy naik y dok?
Dr: (menunjukkan catatan) sakit perut bawah dan migren trmasuk keluhan normal trimester pertama ya..jd masih wajar
sy: oh jd tdk apa2 y dok? (lega)
dr: tidak, mari USG dulu
(menuju ruang USG)
Dr: wah ini janinnya..
sy: benarkah dok? Alhamdulillah.. (sumringah)
ketubannya gimana dok? karena beberapa kali sempat merembes
Dr: ketuban baik, hal tsb masih wajar
Sy: plasentanya gimana dok?
Dr: (mencari letak plasenta) plasenta normal, ini
Sy: denyut jantung janin dok?
Dr: ini terlihat, denyut jantung juga normal. Baik, kita ukur usia janin yah..dari bokong ke kepala..usianya 10w2d :-)
Sy: Alhamdulillah..

Sy: dok, apakah tidak apa2 tekanan darah sy? 137/70
dr: dikatakan tinggi kalo udah 140
Sy: jadi 137 kan udah dekat dok?
Dr: (senyum) kan tingginya kl 140

-ah,ni dokter pengen membesarkan hatiku rupanya-

Sy: oia dok,sy kan minum folavit dosis 400 terus ternyata susu sy jg terdpt asam folat 400 sekian. Itu tidak apa2kah sy minum juga?tidak berlebihan dosis kah?
Dr: lho,siapa yg nyuruh minum susu? (Senyum ramah)
Sy: (hah?) Kan biasanya gitu y dok?hehe
Dr: susu itu dari sapi jadi cuma anak sapi yg minum susu sapi
-sy,dokter,perawat tertawa bebarengan-
Sy: jadi gmn dok?
Dr: jangan dilanjutkan diminum, kita yg alami saja,sayur buah makanan yg sehat lainnya (wah, sepertinya ni dokter pro ASI, pro Gentle birth juga gak yaa?hehe)
Sy: kalo madu dok?
Dr: madu baik malah Tuhan menyarankan jadi pasti ada hikmah di balik itu
Sy: sy kan mual-muntah yg menurut sy parah y dok, sy sebaiknya minum vitamin anti mual gitu tidak dok?
Dr: jangan! Mual-muntah itu reaksi alamiah tubuh, seperti yg sy jelaskan kalo trimester pertama malah sebaiknya dan wajarnya turun berat badan
Sy: tapi sy gak bisa bau nasi dok kan jadi gak keisi apa-apa
Dr: justru itu, kalo tidak mual-muntah tar makannya jadi banyak kan?
Dinikmati saja proses alami tubuh karena Tuhan pasti punya hikmah dibalik ini. Tar kalo makannya banyak dan berat badan nambah terus malah berisiko janin cacat dan keguguran
Sy: oh gitu ya dok (meringis)
Dr: sekarang sy tanya, kehamilan yg dlu gimana?
Sy: makannya banyak dok karena tidak mual dan muntah
Dr: nah itu kan,hehe
Sy: hehe..iya dok, Alhamdulillah kalo gitu

(Selesai sudah konsultasi panjang sy ditandai dgn keluarnya perawat, diusir secara halus,haha)

Well, kalo ditulis gini ternyata keliatan sekali ya sy pasien bawel,hehee
Tapi memang sbg pasien kita harus bawel kawan karena tak jarang dokter2 diluar sana tidak menjelaskan pada kita kalo kita tidak tanya.
Moga pertanyaan2 sy menginspirasi untuk jadi ‘pasien bawel’ hehee..

Malang, 10 September 2012

Tanggal 6 September 2011 yang lalu saya posting tulisan ini (Hampir) Menjadi Ibu

Akhir-akhir ini jadi sering terngiang bahwa kasih seorang ibu sepanjang masa bahkan cerita tentang kerelaan berkorban nyawa untuk anaknya jelas bukan dongeng belaka. Saya pernah berada di posisi ‘rela berkorban nyawa’ itu, untuk anak yang saya kandung. Ketika itu, waktu maghrib, langit senja Bojonegoro, burung-burung bercicit riuh mengitari genteng kamar kos saya.

Pendarahan tak juga berhenti, kontraksi tak kunjung henti. Kala itu saya hampir gila, entah menahan sakit, entah diliputi ketakutan akan adanya kemungkinan anak yang saya kandung tak pernah saya lihat wajahnya..betapa tidak, beberapa hari sebelum itu dokter telah memvonis calon anak saya akan gugur jika pendarahan tak kunjung berhenti.

Saat itu sudah hari ke-10, masih sama seperti hari ke-1.

Dalam senja itu saya berdoa pada Tuhan saya, saya ikhlas untuk semua rasa sakit itu karena saya tahu calon anak saya juga sudah berjuang untuk bertahan dalam rahim lemah saya, mungkin dia lebih kesakitan dari saya.

Entah dapat pikiran darimana, saat itu saya bahkan ikhlas Allah mengambil saya…saya tersenyum walaupun airmata tak pernah berhenti, saya merasa Allah berada di samping saya, meminta saya bersabar. Saya memohon Allah membagi nyawa saya untuk calon anak saya agar dia bisa bertahan, sungguh saya tak kuasa membayangkan dia berjuang diantara peluh dan darah.

Sampai akhirnya tanggal 2 Agustus 2011 pendarahan berhenti total… bersamaan dengan gugurnya calon anak saya.

Saya tak menangis, bahkan saya banyak tersenyum, bukan karena saya senang tapi karena saya tak mau menjelaskan kesedihan saya…

Ketika banyak orang yg berkata ‘kontraksi waktu keguguran itu jauh lebih sakit daripada saat melahirkan’

Saya amin-i pernyataan itu walopun memang saya belum pernah melahirkan.

Sakit kontraksi saat keguguran bisa menjadi berlipat-lipat tatkala kita sadar bahwa calon bayi yang kita rindukan tak akan lagi berada di kandungan sedang kontraksi saat persalinan bisa menjadi tak berarti tatkala kita membyangkan betapa indahnya menjadi seorang ‘ibu’.

Ah, Allah jauh lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, saya yakin satu hari nanti saya akan dipanggil ‘bunda’ lewat bibir mungil anak saya, dalam kondisi yg jauh lebih sempurna :-)

Sepanjang – Sidoarjo, 6 September 2011, adzan Isya’

***

Kejadian enam bulan yang lalu itu masih melekat, belum terlupa benar-benar. Tapi ternyata Gusti Allah memendarkan senyum saya dan suami saya kembali dengan kabar bahwa saya telah hamil lagi :)

Waktu itu 7 Januari 2012, jam 10 malam, badan saya panas sekali, 39 derajat celcius. Suami saya membawa saya ke UGD RS Aisyiah Bojonegoro. Sesampai di UGD saya diperiksa suhu tubuh, tekanan darah dan sebagainya saya tak begitu ingat karena saya menggigil tak berkesudahan yang saya ingat saya menjerit keras sekali karena seorang perawat memasangkan jarum infus di tangan kiri saya dengan begitu bersemangat! (oh, saya sering dipasangi jarum infus tapi sepanjang pengalaman saya waktu itulah yang paling sakit :( )

Dokter menyarankan saya opname untuk diperiksa darah di keesokan harinya. besoknya, 8 Januari 2012 sekitar jam 11 siang dokter dan perawat mendatangi kamar saya. beliau menjelaskan saya terkena gejala tyfus dan… saya positif hamil! :D Jadi kemungkinan besar demam dan sakit-sakitnya saya tersebut karena saya sedang hamil, hihiii… Alhamdulillah… oh, kabar itu begitu membuat saya dan suami saya berseri-seri rasanya jarum infus yang menyakitkan itu tak terasa dan saya ingin segera pulang ke rumah!

Dua hari saya opname di Rumah Sakit hari ketiga rasanya saya seperti hidup kembali, ehm… indah sekali yah mengetahui akn menjadi seorang ibu. apalagi itu adalah kabar yang kami tunggu-tunggu karena saya sudah menikah selama satu tahun.

Seminggu kemudian, usia kandungan saya sudah memasuki 7 minggu. Suami begitu bersemangat berangkat kerja dan begitu cepat pulang kembali ke rumah, tak diperbolehkan saya bekerja berat-berat, suami saya yang mencuci baju, mengepel bahkan beberapa kali memasak :D

Bukan lebay tapi mungkin karena suami saya ingin belajar dari pengalaman yang dulu dia ingin menjaga saya dan calon anak kami sebaik mungkin. Begitu yang tersirat dari tatapan matanya yang tulus :)

Tanggal 25 Januari, shalat shubuh berjamaah, setelahnya saya dapati flek coklat di celana dalam saya! OMG!! dunia seakan runtuh! saya menangis di pelukan suami saya. Karena saya tahu flek di saat kehamilan muda bukanlah berita baik. Sejak saat itu saya bedrest, benar-benar tak melakukan apa-apa. Suami saya berangkat kerja. Menjelang shalat Ashar flek coklat itu sudah tak ada, saya makin bersedih dan tersedu. Mengapa? karena flek coklat itu berubah menjadi darah segar beberapa tetes. Astaghfirullah… tak henti-henti saya berdoa sambil menangis, saya telpon suami saya. Kami segera ke Rumah Sakit. Ke Dr. Arthur Siregar, SpOG.  “Ancaman keguguran…” saya dengar kalimat itu untuk yang kedua kali :(

Dengan tanpa daya saya kembali ke rumah. Saya pandangi obat-obat di tangan saya. Widacillin, Preabor, Folamil Genio.

Obat ini lagi…

Saya tak berani memandang wajah suami saya, kami sama-sama paham ketakutan kami. Obat tersebut untuk 2 minggu, sebelum 2 minggu saya kembali ke dokter, kali ini bukan ke Dr. Arthur, SpOG tapi ke Dr. Askan, SpOG. Di sore yang sepi itu kami berpegangan tangan tak putus seolah berkata, ‘apapun yang terjadi itu yang terbaik’. Bojonegoro, 2 Februari 2012.

Giliran saya di periksa. Menuju kamar untuk di USG. Dr. Askan bermuka masam dan berkata, “abortus…” Saya dan suami saya seolah tak percaya. Berganti-ganti kami bertanya apa, mengapa, kenapa dan sebagainya. Tapi mau gimana itulah yang terlihat di monitor USG (walaupun saya tidak paham) janin kecil yang berusia 8 minggu itu tidak berkembang.

Kami pulang dengan hati hancur, sepanjang perjalanan saya menangis tak henti. Sesampai di rumah saya utarakan ke suami saya bahwa saya tidak percaya Dr. Askan saya ingin ke Malang untuk periksa ke Dr. Pande, SpOG langganan saya waktu hamil pertama dulu. Suami saya setuju. Sesampai di Malang saya telepon Rumah Sakit Puri Bunda tempat Dr. Pande, SpOG praktek, ah sial… ternyata saya sudah tidak kebagian nomor antrian :(

Kami memutuskan untuk ke Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan (RKZ) Malang, saya diperiksa Dr. Bambang, SpOG. Dokter senior yang bergaya anak muda dan ramah. Saya di USG, saya berdoa semoga diagnosa Dr. Askan, SpOG salah. Dan… ternyata tak salah. Sekali lagi saya mendengar kalimat itu, “Maaf ibu Astri, kantong janinnya sudah rusak, anda abortus”. Saya tak menangis saat itu bahkan mungkin seolah tak terjadi apa-apa. Saya bertanya lantas apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Saya harus di kuret untuk membersihkan rahim. Saya menuju bagian admin RS tersebut. astaga biaya kuret ternyata mahal, mulai 2,5 juta – 4 juta. Saya tak punya uang sebanyak itu. Beberapa hari kemudian saya mengumpulkan info dari beberapa Rumah Sakit tentang biaya kuretase. Dan akhirnya saya memutuskan untuk operasi kuretase di Rumah Sakit Permata Bunda yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta – Malang. Saat itu dokter yang menangani saya Dr. Nani Nita, SpOG.

Pada tanggal 6 Februari 2012 saya menjalani operasi kuretase. Dimulai dengan puasa 4 jam, kemudian saya dipasang infus. tepat di jam 6 sore dokter Anestesi memasuki kamar operasi untuk menyuntikkan obat bius, selanjutnya saya tak mungkin ingat apa yang terjadi karena pembiusan total. Sekitar pukul 8 malam saya tersadar, saat saya membuka mata saya dapati ibu, bapak, mbak Al, Angga, Abel, dan bebeberapa saudara saya mengelilingi tempat tidur saya. Kenapa wajah mereka nampak sedih?

Saya awali wajah saya dengan senyum dan menyapa mereka. Saya merasa baik-baik saja. Saya minum obat dan dua jam kemudian saya berkemas untuk pulang ke rumah. Selama seminggu teman-teman saya berkunjung ke rumah. koko, Ratih, Muko, Atak, Bastian, Yos, Pipit, mas Deny. Sepertinya mereka yang butuh dukungan dan motifasi karena ternyata mereka yang lebih sedih, hehehee…

Saya sedih, terluka bahkan seperti tak bertenaga tapi yang bisa membuat saya masih tersenyum dan kuat adalah dukungan suami saya, keluarga saya, teman-teman saya dan juga Allah. Saya tahu semua yang terjadi ini bukan tanpa maksud. Saya tahu ada pelajaran, ada hikmah, yang bisa saya petik yang akhirnya nanti membuat saya dan orang-orang di sekitar saya tersenyum. Saya tahu ini adalah ujian tak hanya buat saya tapi juga buat suami saya dan mungkin orang-orang di sekitar saya. Ujian yang akan membuat kami lebih mencintai Allah, lebih ikhlas, lebih sabar, lebih bersyukur, lebih tegar dan banyak lebih-lebih yang lain…. saya yakin apapun yang Allah beri entah itu (terlihat) baik atau buruk adalah bukan karena Allah ingin mendzalimi hamba-NYA. Ada rencana besar yang sudah Allah persiapkan untuk kebaikan kita tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Asal… kita tetap husnudzan (berprasangka baik) dan bersyukur :)

Lihatlah, saya dan suami saya bisa melewati ini dengan senyum… :)

Man shabara zhafira Siapa yang sabar akan beruntung, insya Allah :)

Well, hari ini 11 Februari 2012. Alhamdulillah tepat 1 tahun usia pernikahan kami, semoga Allah melimpahkan berkah-NYA untuk pernikahan ini, membimbing kami membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, aamiin… :)

Bojonegoro, 11 Februari 2012

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.