” Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana,
mentor rohaniku ketika SMA.

Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya. . di suatu toko buku,
banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung
memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung
tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik
untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya
membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang
berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia
memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di
kasirpun segera terjadi. ”

“iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang
ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul
sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu
juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh
coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak
tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali,
dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli
sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama
kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan
untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.

“Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu
adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak
hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah. .!

Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah
siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan
transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan.

Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex.

Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya
dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah
toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik
maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.

“wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah
satu temanku.

“Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak?
Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung
jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga
dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang
baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.

Benar, Seperti janji Allah SWT,

“Wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang
baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik
(pula). (An-Nur:26).

Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ”
penjelasan ukhti Liana.

***

Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada
suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff,
Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah
sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh
iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi
Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu.
Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga
akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak
main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah
makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia
semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.

Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita
layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli
dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka
justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang
diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu
menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat,
memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau
ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup
memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak
tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi
wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi
anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya,
Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah
harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap
titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi
wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan,
kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk
mempertanggungjawab kan ini semua.

Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu
makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia
sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari
kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi
hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia
sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku
berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi
menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga
kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya,
wanita sholehah..”

(di copas dari sini )

***

Duuh gusti…

naudzubillah deh jadi cewek ‘buku’ yg di buka2, dibaca2, trs dibalikin lagi eenn..tar ada pembeli gag niat yg memperlakukan kek gt juga…

😦

Maafkan aku wahai kaum lalaki jika karena pakaianku, wajahku, suaraku atau apapun dariku membuat kalian toeng2😦

Janji deh nanti gag bakal gt2 lagi🙂

Doakan yah biar nanti (gag lama lagi alias secepatnya) saia bakal berubah menjadi lebih baik lagi. Amiin…

Agar kalimat “Saya Malu Menjadi Wanita” tak pernah terucap dari mulutku…

Amiin…

Moga artikel diatas bermanfaat yaah…khususnya buat para kaum hawa…🙂

March 27, 2009

@ 5:01 PM