Jawapos, Bakso bagi sebagian orang hanya kudapan di waktu senggang. Namun, di tangan Abdur Rachman Tukiman alias Cak Man, anggapan itu menjadi usang. Lewat bendera “Bakso Kota”, pengusaha tidak tamat SD dari lereng Gunung Wilis, Trenggalek, itu kini memayungi usaha 86 gerai bakso di seluruh Indonesia dengan omzet total sete­ngah miliar rupiah per hari.

Deretan mobil berjajar di halaman menyambut Jawa Pos saat mendatangi rumah Abdur Rachman Tukiman alias Cak Man di Jalan Bantaran II no 11 Kota Malang. Mata pencaharian tuan rumah sebagai juragan bakso langsung terlihat dari adanya tiga gerobak bakso di sisi rumah. Di samping rumah berlantai dua itu terdapat bangunan untuk asrama pegawai.”Saya jarang di rumah, lebih banyak di kantor atau berkiling menengok gerai,” ujar Cak Man mengawali wawancara pekan lalu. Deretan mobil dan rumah sederhana itu hanya sebagain dari aset pria kelahiran Trenggalek 48 tahun lalu itu

Melalui PT Kota Jaya yang didirikan pada Februari 2007, Cak Man kini menjadi juragan waralaba bakso terbesar di Indonesia dengan brand “Bakso Kota Cak Man”. Perusahaan bapak tiga anak ini sekarang membawahi 86 cabang gerai Bakso Kota di seluruh Indonesia. Omzet masing-masing gerai berkisar Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per hari, atau sekitar Rp 500 juta per hari untuk semua outlet.

Dari total penjualan kotor per bulan, lima persennya masuk ke kantong Cak Man sebagai royalti frenchise. Jadi hanya dengan ongkang-ongkang kaki, Cak Man bisa mengantongi pendapatan Rp 100 juta per bulan. Penghasilan sekelas dirut BUMN itu ternyata belum termasuk keuntungan dari enam outlet yang dikelola sendiri oleh Cak Man di Kota Malang.

Kantong Cak Man semakin menggelembung jika ada investor yang ingin membeli frenchise Bakso Kota yang dilego Rp 50 juta untuk periode lima tahun masa kerjasama. ”Jumlah itu dipecah, Rp 20 juta untuk membiayai sekolah koki di tempat saya sisanya masuk ke perusahaan, murah kan,” jelas anak ke lima dari delapan bersaudara itu.

Tak heran Cak Man yang tak sempat tamat SD dan mengawali karirnya menjadi tukang bakso pikul itu, kini tinggal menikmati hasil keringatnya.”Oalah mas, semua ini karena saya senang nabung,” ujar pria yang sering ketinggalan pesawat karena sering diminta orang bercerita orang tentang sukses usaha baksonya di bandara itu. Namun tak semua jalan usaha Cak Man bertabur cerita sukses. Pada akhir 2002, di Malang sempat berhembus gosip jika bakso Cak Man dibuat dari daging tikus. Rumor tak jelas sumbernya itu sempat membuat anjlok omzet sampai 50 persen. ”Gerai di Jalan Surabaya saya tutup karena sewanya habis, bukan karena penggerebekan polisi akibat isu campuran daging tikus di bakso,” kenangnya.

Setelah isu bakso tikus mereda, pada 2004 sebagian orang kembali menghembuskan kabar jika baksonya mengandung borax atau bahan yang digunakan untuk mengawetkan mayat. Pada saat itu, Cak Man akhirnya sadar, bahwa kabar tak sedap tentang baksonya harus dilawan.

Cak Man pun akhirnya membuka lebar-lebar dapurnya untuk bisa dikunjungi siapa saja. Kini, mulai dari mahasiswa, pelajar sekolah kejuruan jurusan tata boga, atau masyarakat umum bisa masuk dengan bebas ke dapurnya di Jalan Bantaran II No. 11, Malang. ”Banyak yang menjadikan lokasi ini sebagai bahan skripsi, tugas akhir, tempat magang, atau penulisan buku,” imbuh Cak Man yang berasal dari Trenggalek itu. Beberapa acara kuliner TV nasional juga kerap menyatroninya. Meliput proses pembelian daging sampai terhidang di mangkuk dalam bentuk bakso.

Saat Jawa Pos menyambangi salah satu gerai Cak Man di Jl WR Supratman Malang juga tengah digelar pertemuan sebagai persiapan 80 siswa-siswi dari salah satu sekolah kejuruan di Sidoarjo yang akan magang di cabang-cabang Bakso Kota Cak Man.

Cara “open house” ini terbukti manjur, Bahkan saat muncul isu lagi yakni bakso Cak Man adalah Bakso Katok (bakso yang dicelupi celana dalam untuk penglaris, Red) sudah tak dipercaya masyarakat lagi. (luq/kim)

sumber: jawapos

***

Hebat banget yah Cak Man🙂

top markotop dreeehhh😉

Aku beberapa kali ketemu cak Man loh.. (mang penting yah??hehee..)

Pertama kali ketemu beliau itu waktu cak Man jenguk aku di Rumah Sakit *cieeehh..curhat..ahahhaaa*

Ceritanya nih, waktu aku masih SMA kelas 3 dulu aku kecelakaan motor dan yang menabrakku itu salah satu anak buah nya Cak Man (nah, cak Man ini juga ternyata salah satu temannya bapakku).

Lalu yang pertemuan kedua itu cak Man nemenin anak buahnya sidang di pengadilan, sempat ngobrol-ngobrol waktu itu. Dengan pandangan gak tega melihat kondisi kakiku beliau memotivasiku buat sabar. Sempat aneh juga waktu itu, karena kebanyakan yang ngasih nasehat dan motivasi buat tabah, sabar dan tawakkal ke aku rata-rata adalah orang-orang yang sebenarnya paling membutuhkan motivasi buat bersabar sangat gak tega melihatku. Padahal aku juga biasa-biasa ajah loh, walopun kaki patah, make kruk, kepala dan telinga penuh perban hehehePhotobucket

Kejadian itu udah sekitar 4 tahun yang lalu🙂

Sekarang, Alhamdulillah..udah bisa lari-lari lagi😀

Lalu aku ketemu yang terakhir ma cak Man itu, beberapa bulan yang lalu. Waktu itu beliau ke rumah, nyari bapak ku.

CM: (tok..tok..took) Assalamualaikum, bapaknya ada?

aku: Waalaikumsalam, bapak sedang keluar pak

CM: lho…ini yang dulu kecelakaan itu yah?udah baikan nduk? (diucapkan dengan penuh senyum dan nada bersahabat)

aku: iyah pak, Alhamdulillah…baik pak🙂 *dalam hatiku bertanya: nih orang siapa sih?kok tahu kalo aku pernah kecelakaan?*

CM: Tadi pagi sudah janjian ma bapak buat mengambil barang pesenan saya

aku: (merasa dititipan bapak pesan ‘nanti kalo ada cak Man kesini, itu barang pesanannya, kasihkan langsung yah’ kata bapak sebelum keluar. hmmm mungkin ini orang yang bapak maksud itu) Oh iya pak ini…

CM: (masih dengan senyum)Yawda saya bawa yah mbak nanti kalo bapaknya pulang sampaikan saja kalo pesanannya sudah saya bawa *berjalan ke arah barang pesanan itu*

aku: iyah pak nanti saya sampaikan, maaf dengan pak siapa?

CM: bilang saja dari cak Man…saya pulang dulu mbak, Assalamualaikum..

aku: waalaikumsalam…

Beberapa detik sempat ngomong sendiri, “Cak Man?kok keknya pernah ketemu yah?” Lalu akhirnya tersadar, “Oalaaah…Bakso Kota toh..ya yaa hehee, baek banget yah orangnya”😀

Dan prasangkaku itu di‘iya‘in ma bapak ketika bapak pulang.

Pelajaran buatku: Bahwa ketika nanti ‘kita’ sudah menjadi orang yang lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih dari yang lain maka tetap tunjukkan senyum tulus mu bersikaplah santun kepada siapa saja, tanpa melihat pangkat dan jabatan🙂


Related Quote: Senyuman itu seperti magnet yang memberikan kekuatan menarik perhatian bagi yang memandang dan di senyuman apabila diberikan dengan tulus ikhlas akan tampak seperti pijaran sinar kemuliaan yang menyilaukan dan memberi terang aura bagi si pemilik senyuman itu sendiri. (Pujangga)

Ok, everybadeeee…lets smile for our future!!Photobucket

***

Mojokerto, 15 Desember 2009

(oia, hari ini Pak Shimoo demobilized… gudbye mister…traktirannya dunks…hehehee)