Ibuku^^

Adalah ibuku yang rela berjalan melewati jalan setapak di pinggir sawah sendirian di malam hari sambil nampak kelelahan menggendong tubuh lemahku 21 tahun yang lalu

Adalah ibuku yang ikhlas menggadaikan ketakutannya akan sepinya malam melewati sawah, sungai dan kuburan

Adalah ibuku yang rela dan nekad pergi ke Dokter tanpa membawa uang dan berkata, “Dok, saya tidak punya uang tapi anak saya sakit…” kemudian dengan baik hati pak Dokterpun membebaskan biaya berobat dan memberi obat  dengan cuma-cuma

[Ds. Morotanjek, Singosari – Kabupaten Malang, Jawa Timur]

***

Cerita diatas adalah nyata seperti yang ibu ceritakan padaku beberapa waktu yang lalu ketika aku bertanya tentang masa kecilku dulu.

Saat aku lahir hingga berusia sekitar 2 tahun aku tinggal di Desa Morotanjek, salah satu desa di Singosari kabupaten Malang. Desa yang saat itu benar-benar seperti desa pada umumnya, sawah berhektar-hektar, sungai yang jernih, rumah-rumah yang mayoritas warna dan tampilannya serupa.

Keluargaku saat itu memang tidak mempunyai rumah sendiri. Mengontrak rumah yang paling sederhana adalah kebiasaan. Untuk mengurangi beban hidup. Nomaden kala itu.

Tapi sekarang, Alhamdulillah… walaupun kecil dan sederhana kami mempunyai rumah sendiri di salah satu kecamatan terbesar di kota Malang.

Waktu ibu cerita tentang aku yang sejak bayi sering sakit-sakitan hingga membuat panik semua orang sebenarnya aku ingin menangis karena ternyata dari sejak aku lahir (dan mungkin hingga sekarang) adanya aku adalah suatu ujian (cobaan) untuk orang-orang di sekelilingku.

Tapi nampak ibu sama sekali tak menyesal untuk semua pengorbanan itu🙂

That’s why i call her inspiring mom🙂

Ibupun memulai ceritanya,

“Waktu itu sekitar ba’da adzan Isya’ tiba-tiba badanmu panas tinggi, batuk-batuk dan menggigil. Ibu bingung bukan main. Karena saat itu bapakmu sedang kerja, dia lembur dan biasanya pulang jam 9 malam. Saat itu ibu gak punya uang…sama sekali. Tapi ibu nekad membawamu ke dokter malam itu juga. Ibu titipin mbak Al ke tetangga sebelah rumah. Lalu ibu menuju rumah dokter yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Untuk menuju kesana ibu harus melewati sawah yang luas. Apalagi saat itu malam hari, cahaya lampu hanya sekedarnya ajah di beberapa sudut. Waktu ibu berjalan di sekitar pertengahan sawah ibu ketemu bapak-bapak seusia pak de kamu. Dia menemani ibu berjalan.”

“Lalu bu?” (aku bertanya dengan antusias)

“Ibu tanya-tanya rumah dia dimana, kata bapak itu rumahnya dekat sungai di seberang sawah ini, bapak itu baik. Sepanjang perjalanan dia bertanya tentang kamu. Sakit apa. Sudah berapa lama dan sebagainya.”

“Dia bukan orang jahat?” (tanyaku penuh curiga)

“Sama sekali bukan, bapak itu ramah dan baik mengantarkan ibu sampai di rumah dokter.”

(Aku mengangguk-angguk lega)

“Sesampai di rumah pak dokter bapak itu tiba-tiba menghilang, entah kemana, ibu ajah lom sempat mengucapkan terima kasih. Mungkin saja karena saking senangnya ibu akhirnya nyampai rumah dokter. Waktu ibu memeriksakan ke dokter sebelumnya ibu bilang ke pak Dokter kalau ibu gak punya uang tapi ibu merasa harus membawamu ke dokter dan beruntungnya pak Dokter itu sangat baik dan ramah. Ibu tak perlu membayar konsultasi dan biaya obatnya.”

“Baik banget bu dokternya…” (karena peristiwa itulah yang menginspirasiku untuk menjadi dokter kelak dan akan membantu orang-orang yang tidak mampu. Walopun pada akhirnya cita-cita menjadi dokter tak pernah kesampaian. Ternyata aku masih bisa berbuat baik dengan cara lain, semoga )🙂

“Iya, sangat baik…”

“Esok paginya ibu cari rumah bapak yang kemarin malam mengantarkan ibu ke dokter..katanya kan dekat ma sungai di seberang sawah. Ibu kesana untuk mengucapkan terima kasih. Kamu tahu, ibu sama sekali gak menemukan satu rumahpun di sekitar sungai itu. Ibu cuma menemukan…” (Ibu menggantung kata-katanya, menerawang dengan pandangan kosong)

“Apa bu?” (kejarku)

“Ibu cuma menemukan satu kuburan disana…”

“hah?!” (aku langsung merinding jaya mendengar kata ‘kuburan’)

“Iyah…mungkin bapak itu yang dikirim Allah.” (ekspresi ibu mulai berubah jadi sendu)

Akupun jadi tertular melankolis. Aku tahu banget ibu sangat penakut. Tapi malam itu ibu berani malam-malam keluar rumah dan melewati sawah sendirian bagiku itu adalah sebuah pengorbanan yang besar. Apalagi saat itu ibu ke dokter dengan tanpa membawa uang cuma satu harapan…moga dokter itu baik dan bersedia memberi keringanan untuk membayar biaya pengobatan nanti.

Ada rasa bangga, kagum dan haru yang tiba-tiba merasuk kuat di hatiku.

Allah…ijinkan aku menjadi ibu yang baik suatu saat kelakPhotobucket

BUNDA – Melly Goeslaw

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Nada-nada yang indah
S’lalu terurai darimu
Tangisan nakal bibirku
Tak ‘kan jadi deritamu

Tangan halus dan suci
T’lah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku…

>>Selamat hari ibu, bu… Astri sayang ibu Photobucket

Mojokerto, 22 Desember 2009

Related post: >> Tuhan Memberi Apa yang Kita Butuhkan