Copas dari coretan isengku malam-malam di kertas😀

***

Jumat, 8 Januari 2010 >>kos, Mojokerto @21.28 WIB

Jumat. Cepet sekali kan waktu berlalu?iyah.

Dan hari ini hari ke3 aku gak tahu kabar dia. Terakhir waktu Selasa malam kemarin. Entah, aku begitu marah dan jengkel setengah mati ma dia. Mungkin aku yang terlalu berlebihan😦 . Aku ingat, waktu itu aku ngomong sesuatu yang aku harap bisa dapat tanggapan dari dia yah setidaknya dengan dia menganggukkan kepala tanda memperhatikanku dan itupun tidak dia lakukan. Aku tahu dia mendengarku tapi entah karena alasan apa dia membisu sambil ‘pura-pura’ konsentrasi liat TV.

Aku manyun. Ngambek. Mengeluarkan kata-kata yang gak enak. Uneg-uneg yang aku pendam semua aku nyatakan. Dia kelabakan. Shock dengan reaksiku. Lalu dia mengulang kalimat-kalimat yang tadi aku sampaikan yang tidak dia tanggapin. Aku kaget. ‘Lho… berarti benar dia tadi dengar semua yang aku bicarakan, dunk?’. Aku semakin muntab. Mengingat ekspresi datar dan tak bersahabatnya ketika tadi aku cerita. Dia dengar tapi tak bereaksi sedikitpun? Lalu waktu aku marah dia lantas mengulang semua kata-kataku dan meminta maaf. Untuk apa? Percuma! (umpatku dalam hati).

Bagiku itu percuma. Aku dah terlanjur terluka😦

Aku tahu dia bisa sangat baik jika dia ingin dan sebaliknya. Bisa sangat cuek ketika dia tidak ingin. Nah lho…

Aku jadi curiga. Katanya sayang, cinta, peduli. Tapi ketika aku butuh perhatian dia kok dia cuek? Seolah ekspresi itu berkata, “Siapa kamu?!”

Aku terpukul. Tersakiti. Terkhianati.

“Mana janji manismu…” alunan suara Nidji sayup-sayup terdengar. Maafnya. Kata-kata manisnya. Bujukan. Rayuan. Tatapan mengibanya. Sama sekali tak ku dengar. Aku batu cadas. Keras. Panas.

Aku serang dia dengan tatapan mencemoohku. Aku tantang dia dengan gerakan badan penolakanku. Aku diam. Tak bergeming. Masih tetap keras. Aku merasakan penyesalan yang teramat dalam di getaran suaranya. Aku masih diam. Dia kehabisan ide. Menyerah. Pasrah. Lalu dia beranjak. Dia menawarkan tangannya. Aku masih diam. Tak mengerti maksudnya. Ternyata kepasrahannya ditunjukkan dengan sepenggal kalimat yang teramat aneh kudengar, “Aku pulang dulu…” Hah?! batinku berteriak. Tak habis pikir. Dia tega ninggalin aku dengan luka ini?

Dan yah… dia benar-benar beranjak pergi. Tanpa menoleh. Aku tertunduk. Ragaku melemah. Jiwaku goyah. Benar-benar tak percaya. Laki-laki itu… yang datang dengan sejuta misteri, sejuta harapan, impian, cinta dan cita-cita. Telah tega meninggalkanku dengan pikiran busuk ini. Meninggalkan kekeringan. Jiwaku berontak. Berteriak. Seperti tak kuasa menahan semuanya. Karena ini tak terjadi sekali. Berkali-kali. Meninggalkanku dengan luka yang menganga. Sendirian.

Dan ini yang kau sebut cinta?

~~22.02 WIB

***

Wahahahhahhaaa… jadi ngerasa aneh ndiri mbaca ulang tulisanku di selembar kertas itu. Kenapa aku tulis ulang di blog ini? hmm..iseng hehehe biar nanti kalo aku udah gede (what?!😀 ) terus ngebaca-baca lagi blog ku ini jadi bisa keinget kalo dulu (hari ini) aku punya pengalaman kek gini dan kek gini lho…^^

Ternyata aku masih terlalu ekspresif (???) untuk menyikapi sebuah masalah hehee…

***

Mojokerto, 11 Januari 2010