Mungkinkah kau tahu
rasa cinta yang kini membara
dan masih tersimpan
dalam lubuk jiwa

ingin kunyatakan
lewat kata yang mesra untukmu
namun ku tak kuasa
untuk melakukannya

mungkin hanya lewat lagu ini
akan kunyatakan rasa
cintaku padamu rinduku padamu
tak bertepi

mungkin hanya sebuah lagu ini
yang selalu akan kunyanyikan
sebagai tanda betapa aku
inginkan kamu

***

Hari ini. Sore menjelang Maghrib. Iseng-iseng buka MP3 di HP sambil tiduran di kamar menunggu antrian kamar mandi. Music Player – Playlists – Slow – Ungu – Laguku. Dimulai dengan intro petikan gitar yang menyayat hati 😀

Jadi inget lagu ini salah satu lagu favoritnya yanda🙂

Terbukti beberapa kali waktu dia ngapel ke rumah suka nyalain lagu ini sambil bernyanyi dengan tatapan mata genit nyanyiin nih lagu sambil menatapku.Photobucket

Sudah jelas gaya sok-sokan romantis itu aku balas dengan timpukan boneka, kertas, ballpoint atau apa aja di sekitarku, hehee.

Sebenarnya ketika dia dengan asyik menyanyikan tuh lagu. Pikiranku menerawang jauh ke masa antara tahun 2002-2003. Ketika untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta. Yah di tahun itu seorang laki-laki yang 5 tahun lebih tua umurnya (saat itu aku masih kelas 1 SMA) menyatakan perasaannya. Sebut saja namanya Evan. Aku ingat betul pertama kali aku melihat dia di Masjid Darul Muttaqin, masjid dekat rumahku dan dia. hmmm…aku dan dia tetanggaan kala itu (sekarang entah dia tinggal dimana)

(giliranku mandi. Mandi dulu aahh…)^^

(selesai mandi. Dah seger niihh, lanjuut)

Waktu itu aku masih rajin-rajinnya shalat berjamaah di masjid. Maghrib-Isya’-Shubuh. Begitu juga Evan. Sampai akhirnya. Beberapa bulan kemudian aku merasakan ada yang beda dari dia. Entahlah. Rasanya tatapannya, gerak-geriknya, semuanya beda. Berhubung dulu aku masih sangat cuek dan tomboy akupun tak memikirkannya lebih jauh. Sampai suatu hari. Aku lupa bulan apa yang jelas di tahun 2002. Sepulang shalat Shubuh aku melewati jalan yang biasanya aku lewati, sendirian. Tapi saat itu aku merasakan ada sesuatu yang bakal terjadi. Entahlah, kek perasaan deg-deg an setengah mati gitu (terus setengahnya apa neh??😀 ). Semakin deg-degan ketika melewati belokan. Dan benar. Ada Evan yang sedang menungguku di balik tembok. Deg! mungkin saat itu ekspresi kagetku sama kek ketika aku melihat hantu😀 (mata melotot, hidung berair, badan kejang-kejang wakakakkakaa)

Dia tersenyum (maniiiiss sekali) dengan masih memakai baju taqwa putih dan sarungnya. Looks great!!^^ (aku selalu suka tampilan cowok yang kek gitu…ngeliatnya damaaaiiii banget)🙂

Dengan cengengesan ala ABG aku sapa dia. Kamipun ngobrol sambil jalan. Sampai akhirnya dia bilang sesuatu. Dengan suara bergetar dashyat dia bilang kalau sejak aku SMP dia udah suka aku (cieehhh…sejak kecil ternyata aku udah memikat!hahaa). Ekspresi terbodohpun muncul di wajahku secara otomatis. Datar. Sambil sesekali bilang “oohh…”😀 Ketika hampir dekat dengan rumahku dia bilang “Aku lega udah bilang semua yang aku rasain. Itu udah sangat cukup berarti buatku.” (diucapkan dengan penuh senyum oh well sampai sekarang aku masih ingat senyuman itu)

Lantas kenapa tiap kali aku mendengar lagunya Ungu yang berjudul ‘Laguku’ aku mengingatnya?

Ceritanya begini😀

Jauh sebelum dia (akhirnya) berani mengungkapkan perasaannya ke aku (hadoohhh…bahasaku kok jadul banget seh?hakzzz bah wes😀 ) dia (hampir) setiap hari nyanyiin tuh lagu terutama di lirik yang ini,

“mungkin hanya lewat lagu ini
akan kunyatakan rasa
cintaku padamu rinduku padamu
tak bertepi”

Dan itu dia nyanyiin waktu di kamar mandi. Hanya untuk info, kamar mandi dia ada di bagian belakang rumahnya dan rumahku ada di belakang rumah dia jadi berjejer gitu. Jaraknya sekitar 5 meter dari rumahku. Ketika aku ada di depan teras rumahku pasti bakalan kelihatan jendela kecil di kamar mandi dia (jendela kecil itu cuma buat ventilasi udara aja, letaknya hampir dekat dengan genteng rumah dia).

Setiap pulang sekolah atau sore-sore gitu aku sering baca buku di kursi di teras rumahku. Aku tahu kalau dia tahu aku sedang ada di depan rumah. Dan saat itu dia selalu ada di kamar mandi, entah sedang berbuat apa😀

Dan saat itu dengan suara agak dikerasin dia mulai menyanyikan lagu itu.

Sepintas aku tersenyum sambil membatin “Ngapain sih ni orang? ngomong langsung ajah napa…”

***

Sampai akhirnya sejak peristiwa selepas Shubuh itu aku semakin dekat dengan dia. Seringkali dia menjemputku untuk shalat berjamaah di masjid. Evan termasuk cowok yang lempeng, shalatnya rajin pun rajin ke masjid di sela-sela pekerjaan dia. Sodara-sodara dia pernah cerita ke aku mereka senang karena (akhirnya) si Evan bisa suka ma cewek (bukan berarti dia homo loh yaahh, hehee) karena sampai usia yang saat itu 21 tahun tak pernah Evan terlihat tertarik  ma perempuan (atopun cowok😀 ) apalagi punya pacar. Jadi dia itu pacar pertamaku, aku pacar pertama dia ihiiirr🙂

Setelah satu tahun aku jalan ma dia. Dia cerita kalo ketika dengar Laguku-nya Ungu selalu ingat aku dan waktu dulu dia nyanyi-nyanyi geje di kamar mandinya sebenarnya dia nyanyi buatku (aku tahu hehhee).

***

Dan sekarang. Setelah 7 tahun berlalu lagu itu masih saja aku dengar. Masih dengan alasan yang sama. Masih dengan ekspresi dan intonasi yang sama. Hanya orangnya yang berbeda.

Kadang ketika aku mulai flashback ke masa lalu. Ketika aku masih bersama Evan selama 3 tahun itu. 2002 – 2005. Aku benar-benar mulai merasakan penyesalan yang teramat sangat. Menyesal karena terlalu cuek seolah tak berperasaan. Yah aku dulu sangat cuek bahkan ketika dia berusaha membuatku tersenyum aku tak pernah membalasnya dengan terima kasih atau setidaknya membalas senyumnya. Mungkin karena dia pengalaman pertamaku punya pacar dan lihatlah saat itu aku masih SMA kelas 1 aku masih terlalu sibuk dengan teman-temanku, dengan organisasi-organisasi itu, dengan setumpuk buku-buku kesayanganku. hahh… orang sebaik itu.

Dan herannya dia tak pernah sekalipun mengeluhkan sikapku dia selalu datang dengan senyumnya. Senyum tulusnya. Aku tahu dia mati-matian membuatku bahagia. Entah dengan segala perhatian dia entah dengan kado-kado walaupun aku tidak sedang ulang tahun. Akhirnya aku tahu kalau dia menukar uang makannya dengan kado itu. Dia rela makan sehari sekali hanya untuk mengumpulkan sejumlah uang lalu membelikanku buku-buku, boneka dan kamus bahasa Jerman! Yah dia sangat tahu kalau aku membutuhkan itu dan dia mengirimkan kamus itu ke rumahku dengan tanpa disangka-sangka.

Ibuku sangat sayang ma Evan. Sering ibuku membagi makanan kerumah kontrakan dia karena ibu tahu Evan disini hanya tinggal ma saudaranya  dan untuk kebutuhan sehari-hari Evan harus benar-benar pintar membagi pengeluaran. Kata ibuku dulu “Dia itu baik nduk, sabar juga terlihat kalau dia serius ma kamu…”

***

Sekarang. Sepertinya aku berada di posisi Evan dulu. Mencintai seseorang yang nampak cuek. Berkorban habis-habisan tapi tak mendapat sambutan yang menyenangkan. Tapi yah…hidup itu berputar kan.

Walaupun sering aku merasakan hampir putus asa dengan hubungan yang sekarang, merasa tak dicintai dengan tulus, merasakan ketidakseimbangan antara bahagia dan air mata. Tapi setidaknya aku harus bersyukur karena pernah merasakan dicintai dengan tulus. Pernah merasakan pengorbanan seseorang buatku. Pernah dibahagiain. Dan yang penting aku pernah dicintai ma seseorang yang dihatinya aku perempuan terpenting di hidupnya setelah ibunya.

Yang paling aku ingat dari Evan. Dia tak pernah sekalipun membuatku menangis dan selalu membuatku tersenyum. Hanya satu kesalahan dia (yang menurutku sangat fatal) Dia tak pernah benar-benar percaya kalau aku sayang ma dia. Itu fatal. Dibalik kecuekanku, dibalik sikap dinginku aku menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah dia percayai😦

ah masa lalu…

Dan ketika sekarang aku berhadapan dengan orang super cuek itu aku jadi mikir bahwa tiap orang punya perbedaan cara untuk mencintai seseorang. Bukan tak mungkin dibalik kecuekan dan sikap seolah tak peduli dari yanda sebenarnya dia menyimpan sesuatu. Sesuatu seperti yang dulu aku rasakan pada Evan. Walaupun rasanya seperti gambling tapi siapa yang tahu dalam hati seseorang kan? Aku tak mau mengulangi kesalahan Evan. Itu janjikuPhotobucket

***

Mojokerto, 14 Januari 2010