Buat siapa saja…

Yang kenal ma aku, yang belom kenalan, yang gak kenal, dan buat yang awalnya kenal lantas menjadi pura-pura gak kenal. Pahami ini… just a moment.

Ketika nanti kalian (dan aku tentu saja) merasa ada masalah dengan seseorang. Entah merasa tersinggung dengan kata-katanya, merasa tidak nyaman dengan sikapnya, merasa ada yang ngeganjel dengan seseorang atau golongan (komunitas, grup, geng, organisasi, dll) aku mohon dengan sangat sampaikan masalah itu…utarakan perasaan gak enak itu.

Dan tentu saja mengutarakan dan menyampaikannya bukan lewat seseorang yang lain  yang pada akhirnya bakalan memunculkan argumen sok tahu dari seseorang itu. (hey guys… hal kek gt gak bakalan menyelesaikan masalah!)

Sampaikan pada orang yang membuat kalian gak nyaman. Sampaikan dengan bijak (we’re not a boy/girl again, arent we??) sampaikan dengan baik-baik. dan sampaikan dengan gentle. Well, jaman sekolah dulu ketika ada pelajaran budi pekerti (atau PPKN) kita diajari untuk musyawarah guna mencapai mufakat kan? praktekin itu semua kawan!

Kalau kita ada ‘masalah’ di salah satu teman di organisasi kita sampaikan keganjelan kita itu. ‘coz u know what? masalah kecil (sekecil seperti perasaan gak enak ke salah satu anggota di organisasi kita) bakalan jadi membesar kalau kita simpan sendiri dan semakin membesar juga tak memperoleh titik temu jika kita membicarakannya ke orang lain. Ok, membicarakan ke orang lain boleh untuk meminta jalan tengah (orang yang bisa dipercaya loh yah bukan penggosip!).

Kalian tahu teman, menggampangkan masalah kek gini bakalan ngerusak organisasi (jika kalian ada di suatu organisasi) pun bakalan memperkeruh persahabatan atau lebih hebat lagi, merusak persahabatan. Jangan bilang ‘gak ada apa-apa kok’ ‘aku baik-baik saja’ atau sejuta kalimat-kalimat penghibur lainnya jika hal itu semua gak benar-benar kalian rasakan.

Mungkin artikel dari blognya Reza Gunawan dibawah ini bisa menjelaskan secara lebih mantap tentang maksud kata-kataku barusan:

Entah apa alasannya, saya merasa cuek itu berbahaya. Memang kita jadi lebih terlihat dari luar seperti tenang, seperti tak terpengaruh, dan seperti kuat. Namun ketika rasa tidak nyaman tersebut terus menerus diacuhkan, dia mulai menyelinap ke bawah sadar, dan mulai menggerogoti ketenangan sejati, bahkan kesehatan fisik dan mental.

Diam itu emas pun, bilamana tidak ditakar dengan bijaksana, seringkali bagaikan menumpuk bom waktu. Saya sudah beberapa kali mengalami ini. Justru ketika saya mengizinkan diri untuk berbicara, tanpa diikuti harapan untuk mengubah orang lain, hanya sekadar mengkomunikasikan isi hati, di saat itulah saya berhasil memulihkan ketenangan dan kedamaian.

Dalam ilmu terapi, kita bisa lega ketika berkesempatan mengekspresikan diri secara jujur, apakah itu melalui menulis, berbicara, melukis, menari, bernyanyi, dll. Selama ekspresi tersebut tidak diikuti harapan hati untuk mengubah pendapat dan sikap orang lain, dia tidak akan menumpuk lebih banyak stres, justru mencairkan beban yang sudah ada.

Ini hanya sekedar share tentang sebuah pengalamanku kawan. Moga tak terjadi pada kalian semua🙂

***

Upppsss…. udah jam 5:23 PM neeh kok aku masih betah di kantor yah? hahhaaa…ah pulang aaahhh… have a nice day guys!^^

Besok mau pulkam ke Malang😀

***

Mojokerto, 15 Januari 2010