Akhir-akhir ini jadi sering terngiang bahwa kasih seorang ibu sepanjang masa bahkan cerita tentang kerelaan berkorban nyawa untuk anaknya jelas bukan dongeng belaka. Saya pernah berada di posisi ‘rela berkorban nyawa’ itu, untuk anak yang saya kandung. Ketika itu, waktu maghrib, langit senja Bojonegoro, burung-burung bercicit riuh mengitari genteng kamar kos saya.

Pendarahan tak juga berhenti, kontraksi tak kunjung henti. Kala itu saya hampir gila, entah menahan sakit, entah diliputi ketakutan akan adanya kemungkinan anak yang saya kandung tak pernah saya lihat wajahnya..betapa tidak, beberapa hari sebelum itu dokter telah memvonis calon anak saya akan gugur jika pendarahan tak kunjung berhenti.

Saat itu sudah hari ke-10, masih sama seperti hari ke-1.

Dalam senja itu saya berdoa pada Tuhan saya, saya ikhlas untuk semua rasa sakit itu karena saya tahu calon anak saya juga sudah berjuang untuk bertahan dalam rahim lemah saya, mungkin dia lebih kesakitan dari saya.

Entah dapat pikiran darimana, saat itu saya bahkan ikhlas Allah mengambil saya…saya tersenyum walaupun airmata tak pernah berhenti, saya merasa Allah berada di samping saya, meminta saya bersabar. Saya memohon Allah membagi nyawa saya untuk calon anak saya agar dia bisa bertahan, sungguh saya tak kuasa membayangkan dia berjuang diantara peluh dan darah.

Sampai akhirnya tanggal 2 Agustus 2011 pendarahan berhenti total… bersamaan dengan gugurnya calon anak saya.

Saya tak menangis, bahkan saya banyak tersenyum, bukan karena saya senang tapi karena saya tak mau menjelaskan kesedihan saya…

Ketika banyak orang yg berkata ‘kontraksi waktu keguguran itu jauh lebih sakit daripada saat melahirkan’

Saya amin-i pernyataan itu walopun memang saya belum pernah melahirkan.

Sakit kontraksi saat keguguran bisa menjadi berlipat-lipat tatkala kita sadar bahwa calon bayi yang kita rindukan tak akan lagi berada di kandungan sedang kontraksi saat persalinan bisa menjadi tak berarti tatkala kita membyangkan betapa indahnya menjadi seorang ‘ibu’.

Ah, Allah jauh lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, saya yakin satu hari nanti saya akan dipanggil ‘bunda’ lewat bibir mungil anak saya, dalam kondisi yg jauh lebih sempurna 🙂

 

 

Sepanjang – Sidoarjo, 6 September 2011, adzan Isya’