Yaa Allah ya Ghaffar…😥

Tiap kali melalui hari2 penuh air mata bersamanya sebenarnya jiwa ini perlahan melumpuh, melihatnya menangis tanpa suara membuat saya mengutuki diri sendiri, dan tiap kali membaca ini rasanya.. ah, betapa saya masih jauh dari predikat istri sholehah😦

Padahal di hari ketika ijab qabul, 11 Februari 2011, saya berjanji di dalam hati, perjanjian dengan Allah, bahwa saya akan belajar menjadi istri sholehah, istri yang dapat menyenangkan suami saya, membentuk keluarga kecil yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Tapi kenapa saya begitu tertutup? bahkan untuk menyatakan apa yang saya mau atau yang tidak saya mau, begitu sulit… sehingga semuanya hanya berhenti di tenggorokan tanpa ada kekuatan untuk mengeluarkannya lewat kata2 yang pantas. Dan ketika yang saya tidak setujui, tidak saya suka, tidak saya inginkan tiba saya hanya diam mematung, tanpa suara, sesuatu yang sangat tidak kau sukai memang.

Saya tahu begitu sabar dan hebatnya kau merayuku untuk bisa sedikit saja menyampaikan yang saya rasa tapi entahlah seperti tuli saya tetap diam dan mematung. Saat itu sebenarnya saya ingin sekali berbicara tapi kenapa suara saya seperti hanya saya saja yang mengerti?

Saya tahu pernikahan adalah salah satu sarana untuk belajar, belajar tentang kehidupan, belajar tentang pasangan kita. Di usia pernikahan yang memang tergolong baru ini saya berharap adalah masa-masa penyesuaian, try and error, menuju masa yang jauh lebih indah🙂

                                                                                                                                                                                                                 Sepanjang, 5 Oktober 2011