Indah hanya tampak
Dalam hati ternyata rompak

Sudah ku menengadah
Melafadz jujur yang telah tiada

Benarkah susah apa adanya?
Benarkah susah sederhana saja?
Benarkah ‘kita’ hanya teori
Baiknya aku dan kamu sendiri
Membenahi hati perbaiki diri

Karena diri tak sempurna
Maafkan sampai ke akarnya

Demi Allah Sang Penguasa Hati
Membolak-balikkan hati tanpa menanti

Ya illahi rabbi ikhlaskan ini…

****

Jingga diujung dermaga
Mengurai langkah yang tertata canda
Melukis sembab tak bersebab

Semua serba terlalu
Masih terlalu meski terjerat benalu
Itu melulu..

Nyatanya yang serba terlalu
Adalah semu

Katamu…

Masih ku mencari senyum-Mu
Diantara pias mata-matamu

Adakah bagianku?

****

Yang awalnya sejatipun mulai luntur tipis-tipis
Haruskah mengemis
Hanya untuk senyum manis

Semoga memang tak cuma manis di muka
Berawal indah toh akhirnya luka

Benarkah angin-angin itu merapat di dedaunan
Benarkah janji-janji itu tak cuma mainan
Benarkah bumi dalam putaran
Benarkah aku salah tafsiran

Benarkah? benarkah?

sudah lelah kubertanya pada rumput yang bergoyang
Ijinkanku melayang
Terbang
Jauh di awang-awang

Sebab kau tak tahu berapa banyak airmata tumpah sia-sia

***

Terhapus benar-benar
Tak bersisa..
Hebat

Semudah itu percaya ada?
Bukan..

Ia lahir karena istiqomah
Bukan hanya mukaddimah
Lalu terlupa begitu saja

Semakin suka kalimat ini,
‘lakukanlah karena Allah, itu yg kekal’

Sandiwara hanya indah saat bersuara

 

****

Sebaris kalimat yg dia tulis menampar naifku

Ambigu

… bertopang dagu lalu tergugu

Janji membusuk dan berkerak
Tak menyisakan apa
Hanya bau..hanya tanda
Tak berupa!

Berharap ini bunga tidur
Yang segera terhempas..samar..terlupa, kandas tak bersisa

Merunduk saja
Jangan menengadah
Lukamu di ujung dada
Terengah-engah menutupinya
Bukan sekali juga bukan dua kali
Berkali-kali

Masihkah disebut bodoh?