Bismillahirahmaanirrahiim…

Miris sekali bahkan kadang sampai bisa ku meneteskan air mata ketika saya membuka beberapa fan page tentang ibu hamil dan ilmu kandungan.

Betapa baanyakk sekali ibu-ibu muda yang ingin sekali hamil, saya juga kok. Dan itu normal menjadi mimpi setiap pasangan suami-istri.

Seperti yang saya tulis di awal bahwa saya bisa sampai meneteskan air mata ketika membaca postingan-postingan galau, keluhan, ratapan bahkan prasangka buruk kepada ALLAH. Padahal Ar-Rahmaan ALLAH, Maha Pengasih, Dia telah mencukupkan kita dengan banyak nikmat-Nya, Maha Pengasih-Nya Ia bahkan ketika kita berbuat dosa setinggi gunungpun Dia mau mengampuni kita, asal kita taubat nashuha-sebenar benarnya taubat.

Ketika prasangka buruk itu kita pelihara maka kita sudah tidak proporsional memperlakukan ALLAH.

‘Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?’

Ayat tersebut diulang hingga 31 kali dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rahmaan. Oh, betapa ALLAH Maha Mengetahui manusia lebih banyak tidak bersyukurnya.

Kita mudah menyimpulkan.

Jika doa yang kita panjatkan tiap saat tidak (atau belum?) terkabul maka kita menyimpulkan ALLAH tidak sayang, ALLAH pilih kasih, dan berbagai kesimpulan lain.

Padahal tak mungkin ALLAH mengijinkan sesuatu tanpa tujuan, tanpa hikmah, tanpa maksud untuk menghendaki kita lebih baik.

Kita yang suka lebay mengartikan tiap skenario ALLAH dengan rumusan yang terlalu sotoy.

Seperti ketika kita ingin melihat pelangi bukankah harus ada hujan dulu? maka nikmatilah ‘hujannya’ niscaya ketika tiba pelangi kita akan lebih-lebih-lebih bisa bersyukur 🙂

Sunnatullah-Nya begitu rapi, tersusun begitu indah jika kita mampu menyelami tiap kejadian tanpa menyertakan prasangka buruk.

Dan, jika saat ini saya dan beberapa bunda-bunda lainnya belum diberi anugerah buah hati atau ada yang mengalami keguguran hingga berkali-kali (seperti saya) maka pada titik inipun kita tetap harus menjaga hati dari prasangka buruk. Bukan saya tidak pernah sedih, meratap, bimbang bahkan menyalahkan diri sendiri, saya pernah mengalami itu semua tapi Alhamdulillah semua itu tidak berlangsung lama. Sesaat setelah saya membuka mata hati saya saya dapati begitu banyaaaaakkk nikmat lain yang saya terima. Saya dianugerahi suami yang luar biasa, keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan, teman setia, rejeki yang tak putus bahkan saya masih diberikan kesempatan untuk hidup lagi setelah kejadian keguguran yang kedua Februari 2012 kemarin (see… bukankah banyak kasus keguguran yang merenggut nyawa si ibu juga?) lantas kenapa saya harus meratap? kenapa saya harus suudzan? kenapa saya seolah tidak mendapat nikmat sedikitpun? bahkan jika kita mau hitung-hitungan, lebih banyak mana nikmat sehat dengan sakit? ah, paling selama 25 tahun (contoh umur saya yah) saya hidup hanya sakit maksimal selama 2 tahun… berarti 23 tahun ALLAH memberi saya sehat! subhanallah… masih pantas kita tidak bersyukur? jawabannya T I D A K!

Ok, sekarang kita melihat dari sisi baiknya, lebih terperinci lagi 🙂

Jika saat ini kita belum diamanahi seorang anak, jangan-jangan ALLAH ingin kita memperbaiki kualitas kita sebagai calon orang tua, memberi kita waktu lebih banyak untuk belajar, untuk mencari tahu bagaimana menjadi orang tua terbaik, bagaimana merawat & mendidik anak, mempersiapkan mereka menjadi generasi penerus yang berakhlak mulia.

>> ALLAH ingin dari rahim kita lahir generasi yang berkualitas, berakhlak mulia 🙂

Jangan-jangan ALLAH ingin mengabulkan doa kita, mungkin di saat lain kita berdoa agar menjadi orang yang sabar-yang tegar, bisa jadi dengan adanya penantian ini kita benar-benar bisa menjadi orang yang sabar dan tegar.

>> ALLAH ingin kita tertempa hingga benar-benar menjadi hamba yang istiqomah 🙂

Jangan-jangan ALLAH ingin kita menjadi hamba-Nya yang bermanfaat untuk orang lain, contohnya: karena kita pernah keguguran maka saat ada teman kita yang hamil kita berbagi pengalaman agar kejadian yang kita alami tidak dialami juga oleh teman kita.

>> ALLAH ingin kita menjadi hamba-NYA yang menjadi sebesar-besarnya manfaat buat orang lain, ingat hadist ini? ‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.’ (Al. Hadits)

Jangan-jangan ALLAH ingin kita lebih dermawan, ingin kita menjadi hamba-Nya yang mencintai anak yatim, yang mengasihi dhuafa, yang menyayangi lebih muda, menghormati yang lebih tua.

 >> ‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat,tapi kebajikan itu ialah (kbjikan orang yang beriman kepada Allah,hari akhir,malaikat-malaikat,kitab-kitab,dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat,anak yatim,orang-orang miskin,orang-orang yang dalam perjalanan,peminta-peminta dan untuk memerdekan hamba sahaya,yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat,orang-orang yang menepati janji apabila berjanji,dan orang yang sabar dalam kemelaratan,penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.’ (QS. Al-Baqarah: 177)

Jangan-jangan ALLAH masih ingin berduaan dengan kita, dalam sujud panjang Tahajud di sepertiga malam, dalam Dhuha, dalam doa-doa yang kita panjatkan, dalam airmata penuh kekhusyukan.

 >> Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

Selanjutnya, cari lebih banyak alasan baik lainnya agar kita lebih bersyukur 🙂

Semua tak akan terjadi jika ALLAH tak berkehendak.

Lantas kenapa kita masih memilih menjadi hamba-Nya yang pengeluh, yang mudah meratap, yang sering menyalahkan, yang gampang berprasangka buruk?

Sedang ALLAH berjanji dalam firman-Nya,

‘Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar’ (Al-Baqarah: 155)

‘(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)’ (Al-Baqarah: 156)

Demi ALLAH, Dia akan memberi balasan yang terbaik bagi hamba-Nya yang sabar.

Pilihan ada di tangan kita 🙂

Maka nikmat ALLAH manakah yang kita dustakan?

Ya illahi Rabbi, jagakan hati tetap husnudzan…

*saya buat catatan ini untuk mengingatkan khususnya saya sendiri agar selalu bersyukur dalam kondisi apapun, moga yang membacapun juga begitu. Lebih indah jika kita saling mengingatkan 🙂

Bojonegoro, 17 Juni 2012